PARADIGMA GERAKAN MUSLIMAH INDONESIA

Posted: 29 October 2009 in Islam

Paradigma Gerakan Perempuan Indonesia

Dipublikasikan: 13/07/2004

Benang kusutnya masalah yang menimpa perempuan hari ini, khususnya perempuan Indonesia, dan tercetusnya bentuk tuntutan gerakan perempuan Indonesia berupa quota 30% keterwakilan perempuan di parlemen merupakan suatu fenomena yang membuktikan bahwa perempuan telah mengalami bentuk ketidakadilan, kekerasan, kesewenang-wenangan, diterbelakangkan, diremehkan bahkan dipaksa untuk berjuang oleh sistem yang membingkai kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai bidang baik secara langsung maupun tidak langsung.

PARADIGMA GERAKAN MUSLIMAH INDONESIA *)

Oleh : Rayuna Handawati **)

Pendahuluan

Benang kusutnya masalah yang menimpa perempuan hari ini, khususnya perempuan Indonesia, dan tercetusnya bentuk tuntutan gerakan perempuan Indonesia berupa quota 30% keterwakilan perempuan di parlemen merupakan suatu fenomena yang membuktikan bahwa perempuan telah mengalami bentuk ketidakadilan, kekerasan, kesewenang-wenangan, diterbelakangkan, diremehkan bahkan dipaksa untuk berjuang oleh sistem yang membingkai kehidupan masyarakat Indonesia di berbagai bidang baik secara langsung maupun tidak langsung.

Indonesia yang 80 % penduduknya beragama Islam, seharusnya mampu menunjukkan pada dunia internasional bahwa fenomena tersebut seharusnya tidak pernah terjadi, bahkan seharusnya setiap orangpun sulit membayang hal tersebut terjadi dinegeri mayoritas muslim. Kenapa?

Sejarah Islam telah mengukir tinta emas, bagaimana perempuan mendapat hak-hak disertai kewajibannya bahkan menjelaskan dengan gamblang peran serta para shahabiyyah dalam aktifitas publik. Teladan yang jelas bagi setiap muslim/manusia dapat kita lihat pada sosok Khadijah Al Kubro. Khadijah adalah seorang konglomerat pedagang taraf Internasional yang cerdas dan cantik, orang yang pertama beriman kepada Allah yang artinya saat itu siap berpolitik juga, dan orang yang berjuang bersama Rosululloh dengan harta, jiwa dan raganya menyebarkan Islam ke seluruh manusia. Sisi lain catatan seorang Khadijah Al Kubro adalah, sosok perempuan yang masih diharapkan kehadirannya oleh sang suami tercinta, pemimpin umat manusia, RosululLoh SAW, meskipun bertahun-tahun ia telah tiada hingga menuai cemburu bagi istri Rosul Muhammad SAW yang lain, yang masih hidup dan lebih muda. Sosok perempuan yang merasa bahagia karena kesuksesannya, dengan predikat ibu, mengantar anak-anaknya menjadi orang yang dapat menebar pesona karena akhlaknya, menjadi petuah bagi wanita disekitarnya dan dijamin surga oleh Allah SWT, seperti Fatimah binti RosululLoh.

Khadijah, dan sebut saja shahabiyyah lainnya seperti Asma binti Abu Bakar, “Atikah binti Zaid, Zainab binti Jahsy, Ummu Kultsum binti ‘Uqbah, Ummu Haram, Hafsah binti Umar dan sebagainya merupakan sosok-sosok wanita yang dalam sejarah merupakan produk Islam karena mereka beriman pada Allah, taat pada Rosululloh dan menghidupkan Quran dalam hati dan akhlak sehari-harinya. Al hasil mereka mampu menjelaskan apabila Islam telah terinternalisasi dan teraktualisasi oleh setiap muslim maka perempuan tidak pernah dan tidak akan pernah menghadapi persoalan-persoalan seperti yang menimpa perempuan Indonesia hari ini.

Paradigma Gerakan Perempuan Indonesia

Dalam suatu acara talk show di salah satu stasiun televisi Indonesia, pada peringatan Hari Kartini 2004 lalu, tanpa disadari telah terjadi kesepakatan pembicaraan bahwa seorang Kartini yang mempunyai ide-ide berilian terhadap perjuangan hak-hak perempuan tersebut disayangkan oleh salah satu nara sumber tidak mampu mengatasi masalah poligami. Seharusnya nara sumber tersebut, mampu menyadari bahwa seorang Kartini adalah muslimah sejati yang memahami bahwa poligami bukan suatu larangan dalam Islam tetapi juga boleh menjadi suatu pilihan bagi setiap orang berpoligami atau dipoligami. Seorang Kartini, tidak mungkin tidak menjelaskan detil dalam surat-suratnya apabila berpoligami adalah bukan masalah yang sangat mempengaruhinya. Karena toh, dalam surat-surat tersebut Kartini lebih mencurahkan keinginan mendapat persamaan keadilan karena terpenuhi haknya, kesempatan yang sama dengan laki-laki dalam hal-hal yang azasi dan kodrati seperti pendidikan dan peran serta di publik.

Masih di regional yang sama, dunia masih mencatat kepahlawanan seorang Cut Nyak Dien atau Cut Nyak Meutia ataupun laksamana Malahayati. Sosok-sosok perempuan Indonesia yang mendapat kehormatan langsung oleh Belanda karena pengaruh mereka membangun semangat jihad berperang masyarakat Aceh menentang kebiadaban imperialisme bangsa lain. Sebut saja, Cut Nyak Meutia ia adalah sosok yang melakukan perlawanan terakhir terhadap pasukan Belanda yang mengepungnya hingga menghembuskan nafas di depan putra kecil tersayangnya.

Ada satu kesamaan pola pergerakan perempuan pejuang Indonesia terdahulu seperti Cut Nyak Meutia, Cut Nyak Dien, Malahayati, Kartini, Nyi Ageng Serang, Dewi Sartika ataupun lainnya – yang selalu menjadi inspirator gerakan perempuan Indonesia dewasa ini, mereka adalah orang-orang yang selalu tidak pernah membedakan sektor domestik dan non domestik dalam optimalisasi peran-peran mereka. Mereka adalah seorang perempuan yang berhasil menjadi ibu dan berhasil memberikan kontribusi dalam masyarakat.

Artinya apabila kita kembali kepada keteladanan para shahabiyyah dan pola pergerakan perempuan pejuang Indonesia maka ada banyak kesamaan yang dapat kita ambil. Bahwa dalam aktifitas pergerakan perempuan, perempuan harus menyadari fungsi instrinsiknya terlebih dahulu yaitu sebagai ibu bagi keluarganya dan sebagai ibu bagi generasi/masyarakatnya. Sehingga setiap perempuan dalam peran-peran dan aktifitasnya harus mengacu pada bagaimana keluarga intinya menjadi wadah pembentukan manusia-manusia unggul yang baru, karena terjadi keharmonisan dan keselarasan oleh sentuhannya dengan bekerja sama dengan anggota keluarga lainnya, dan dalam aktifitas publiknya ia menjadi inspirator, motivator dan eksekutor untuk terwujudnya generasi bangsanya yang beradab dan mandiri.

Realisasi Gerakan Perempuan.

Beban permasalahan yang dihadapi oleh perempuan Indonesia seperti kekerasan dalam rumah tangga, penjualan perempuan dan anak, hak-hak perburuhan, perkosaan dan pelecehan seksual, pornografi dalam kerangka komoditi, kesehatan reproduksi dan anak, beban ekonomi, kurang kesempatan mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dan kurangnya partisipasi perempuan dalam menentukan kebikajakan terutama yang menyangkut diri perempuan, menjadikan perempuan harus bangkit dan bergerak untuk menghilangkan beban tersebut, dengan beragam aktifitas.

Dengan mengacu pada paradigma gerakan perempuan, maka ketika perempuan khususnya muslimah melakukan aktifitas gerakannya sebaiknya dianjurkan tidak menonjolkan adanya dikotomi peran perempuan di domestik(rumah tangga) dan publik. Karena perempuan memang sangat dituntut untuk tampil seoptimal mungkin di wilayah domestik dan publik untuk cita-cita luhur sebuah bangsa menuju peradaban yang gemilang terutama dalam hal menghasilkan generasi yang unggul. Hatta, sekalipun ketika seorang wanita itu berperan di wilayah publik yang tidak bersentuhan langsung dalam menghasilkan generasi unggul itu sendiri.

Apabila seorang atau kaum perempuan dalam upayanya mewujudkan generasi yang unggul mendapat banyak mendapat halangan dari sistem maupun lawan jenisnya, maka sangat dianjurkan perempuan untuk menunjukkan kualitas dirinya sebagai pribadi yang lebih unggul dan layak bukan dengan sekedar kata-kata dan memotivasi kaumnya untuk melakukan hal yang sama. Hal ini, bisa kita lihat pada beberapa tokoh pergerakan perempuan Indonesia era ini yang akhirnya mampu terpilih sebagai ketua lembaga pemenang pemilu salah satu partai ataupun ada yang menjadi calon cawapres pemilu 2004 ini, lebih ke belakang apabila ingin kilas balik kita pernah memiliki seorang calon astronot perempuan dan satu-satunya dari Indonesia dan 2 orang perempuan Indonesia yang telah melakukan ekspedisi penelitian 2003 lalu ke benua Antartika, benua tak tertaklukan. Artinya, publik telah mengakui mereka tidak hanya karena kasihan sebagai perempuan tetapi mereka memang layak dipilih sebagai pemimpin/wakil Indonesia dan ternyata bidang garapan mereka tidak harus terkait langsung dengan isu perempuan (tidak diangkat, karena mewakili kaum perempuan)

Akhirnya, ada poin-poin terpenting bagi perempuan untuk berproses beramar ma’ruf nahi munkar, bahu-membahu bersama kaum pria dalam proses menyelesaikan persoalan kaumnya dan bangsanya, untuk merealisasikan terwujudnya ide-ide briliannya dalam bingkai pergerakan perempuan Indonesia hari-hari yad, antara lain yaitu dengan:

§ Memaksimalkan peran perempuan dalam legislatif untuk menghasilkan kebijakan yang kondusif bagi penyelesaian permasalahan perempuan dan peningkatan kualitas SDM perempuan.

§ Mengoptimalkan kinerja perempuan dalam birokrasi untuk mampu meramu kebijakan dan kegiatan yang dapat memenuhi kebutuhan perempuan sesuai dengan haknya.

§ Meningkatkan kualitas pendidikan kaum perempuan melalui wajib belajar, pendidikan ketrampilan melalui lembaga-lembaga di pedesaan/perkotaan.

§ Melalukan pembinaan politik, penyuluhan kesehatan kepada seluruh perempuan oleh elemen-elemen pergerakan tanpa bermaksud sekedar menjadikan mereka semata-mata obyek yang dapat dieksploitasi.

§ Mengkampanyekan bahwa masalah perempuan adalah masalah bangsa, perempuan adalah salah satu bagian yang menjadi sasaran pembangunan terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur.

§ Menyatukan seluruh elemen pergerakan perempuan dalam satu persepsi, tujuan, arah dan gerak yang sama agar cita-cita yang diinginkan tercapai.

Wallahua’lam bishowwab.

*) Disampaikan pada seminar QUO VADIS FEMINISME DALAM ISLAM, di Universitas Islam Negeri, Ciputat. Kamis, 27 Mei 2004

**) Mahasiswa Magister Ilmu Kelautan FMIPA UI, program Fisik Kelautan,2004. Koordinator Badan Khusus Muslimah (BKM) SERUNI Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pusat peiode 2002 – 2004.

Comments
  1. Angyun Abraham says:

    I like it..
    Paradigma yang luas dan seimbang ntuk seuah gerakan pemerempuan yang ingin mengangkat hak-haknya…

    Maju terus …
    saya dukung ..

    Salam ukhuwah
    ^_^
    Angyun Abraham
    Mahasiswa S1 Reg 2007, Jurusan Manajemen Rumah Sakit
    Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

    Contac me 085711647680

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s