TOKOH-TOKOH PEMBAHARUAN PENDIDIKAN ISLAM

Posted: 29 October 2009 in Islam

MOHAMMAD NATSIR

Mohammad Natsir adalah seorang negarawan Muslim, Ulama, dan Intelektuil serta pembaharu pendidikan Islam di Indonesia. Beliau juga merupakan tokoh kunci dan pejuang gigih yang mampu mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari perpecahan. Hal inilah yang membuat pemerintah Indonesia menetapkan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 10 Nopember 2008 yang juga bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional dan 100 tahun pemikiran Mohammad Natsir (1908-2008).

Riwayat Pendidikan

Mohammad Natsir bin Idris Sutan Saripado lahir di Alahan Panjang , Sumatera Barat 17 juli 1908 dan meninggal pada tanggal 06 Februari 1993. Natsir mendapat gelar Datuk Sinaru  Panjang dan merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahnya bernama Idris Sutan Saripado yang bekerja sebagai juru tulis kontrolir di masa pemerintahan Belanda. Ayahnya selalu berpindah-pindah dalam tugasnya, hal inilah yang mempengaruhi latar belakang pendidikan Natsir.

Berikut ini adalah riwayat Pendidikan Mohammad Natsir, yakni sebagai berikut:

-         Riwayat pendidikannya dimulai dari Sekolah Rakyat (SR) hingga kelas dua. Kemudian pindah ke Hollands Inlandsche School (HIS) (1916-1923)

-         Menerima beasiswa di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), Padang (1923-1927)

-         Jenjang sekolah lanjutan atas di AMS (Algemene Middlebare School), Bandung (1927-1930)

-         Kursus guru Diploma LO (Lager Onderwijs).

Sebenarnya ketika lulus dari AMS dengan nilai yang tinggi, Natsir sebenarnya berhak melanjutkan kuliah di fakultas Hukum di Batavia sesuai keinginan ayahnya agar menjadi Meester in de Rechten. Atau Kuliah Ekonomi di Rotterdam, serta mendapatkan peluang menjadi pegawai negeri dengan gaji tinggi. Tetapi hal demikian tidak diambil oleh Natsir. Ia lebih tertarik kepada masalah-masalah Islam dan gerakan Islam dengan memasuki Studi Islam di Persatuan Islam Indonesia (PII) di bawah naungan Ustadz A. Hassan yang dikenal sebagai ulama yang berpaham radikal dan jadi Sesepuh Organisasi social-keagamaan.

Mohammad Natsir dalam Politik

Mohammad Natsir mulai berkecimpung dalam dunia politik setelah menjadi anggota Partai Islam Indonesia pada awal tahuan 1940-an, memimpin organisasi Majelis Al-islam A’la Al-Indunisya. Organisasi ini makin berkiprah dalam kepemimpinan beliau. Dalam masa Jepang itu pula terbentuk Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi sebagai salah satu wadah perjuangan memerdekakan Indonesia.

Sebagai politisi, Natsir pernah menduduki jabatan Perdana menteri RI pertama pada tahun 1950-1951 setelah Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan republic Indonesia (NKRI) ketika itu, Indonesia menjadi Negara serikat sebagai produk dari Konferensi Meja Bundar (KMB) melalui sidang RIS tahun 1950, Natsir tampil dengan melontarkan pernyataanya yang dikenal dengan “Mosi Integral natsir” yang menjadikan Indonesia bersatu kembali ke dalam NKRI. Atas jasanya inilah, Presiden Soekarno mangangkatnya sebagai Perdana Menteri RI.

Berikut ini adalah sepak terjang Mohammad Natsir sebagi Politisi. Yakni sebagai berikut:

-         Anggota Persatuan Islam Indonesia (PII) cabang Bandung (1938);

-         Ketua PII (1940-1942);

-         Menteri Penerangan RI untuk tiga Kabinet

-         Ketua Partai Masyumi (1949-1958)

-         Perdana manteri RI (1950-1951);

-         Anggota DPR (1955)

-         Anggota Kontituante RI (1956-1957).

Mohammad Natsir berkeinginan manjadikan Islam sebagai landasan Negara atau Ideologi Bangsa.ikirannya itu dipengaruhi oleh Ustadz A. Hassan. Akan tetapi, pemikiran beliau sangat kontras dengan Soekarno sehingga menyebabkan konflik dan mengakhiri karier politiknya di zaman Orde Baru (Orba).

Mohammad Natsir dalam Dakwah

Setelah kariernya telagh merasa berakhir dalam politik, beliau meneruskan perjuangannya dengan menggunakan media dakwah melalui Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) yang  berkedudukan di Jakarta. DDII ini didirikan bersama para aktivis Masyumi lainnya. Selain itu juga, beliau mendirikan Forum Ukhuwah Islamiyah (FUI) bersama KH. Masykur, seorang mantan Menteri Agama dan beberapa tokoh serta berbagai Ormas Islam pada masa orde baru (1989).

Selain berkiprah dalam dunia dakwah nasional, Mohammad Natsir juga aktif dalam dunia Dakwah Internasional. Diantaranya:

-         Memimpin Sidang Muktamar Alam Al-Islam di Damaskus, Syiria dan Arab Saudi;

-         Wakil Presiden Kongres Islam se-dunia di Pakistan;

-         Menerima panghargaan Internasional berupa bintang Nicham Istikhar (Grand Gordon) dalam rangka membantu perjuangan Kemerdekaan Afrika Utara;

-         Menerima panghargaan Internasional Jaizatrul Malik Faisal Al-Alamiah, Arab Saudi.

Mohammad Natsir sebagai pemikir pemabahruan islam tidak dapat dipisahkan dari jati dirinya sebagai pelopor Pergerakan Islam Modernis.paham Modernitas menurut beliau bermakna kembali pada Islam dan pembaharuan ke dalam bentuk Sekuler dan Liberal. Beliau berpendapat bahwa Modernitas bertujuan membersihkan kembali Islam yang telah tertutupi oleh noda-noda yang kemudian prinsip inilah \yang kemudian mendasari aktifitasnya dalam dunia politik, dakwah dan pendidikan.

Mohammad Natsir dalam Pendidikan

Mohammad Natsir merupakan seorang pejuang pendidikan islam di Indonesia. Tokoh yang tidak pernah absent dalam sejarah ini telah memberi warna tersendiri dalam dunia pendidikan di Indonesia.  Ketertarikan Natsir dalam memperjuangkan pendidikan Islam karena beliau sadar betul kedudukan pendidikan bagi masa depan bangsa.  Beliau pernah berkata “Maju mundurnya suatu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada suatu Bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka”.

Natsir berpendapat bahwa ada tiga unsure yang dijadikan sebagai modal utama pembinaan umat maupun pembangunan Bangsa dan Ekonomni Negara. Yakni Masjid, Pesantren dan Kampus.

Berikut ini adalah beberapa peran penting Mohammad Natsir dalam Pendidikan

  1. mendirikan Sekolah Pendidikan Islam (Pendis)

Pada tahun 1932, Natsir mendirikan Sekolah Pendidikan Islam (Pendis). Pendis adalah sebuah sekolah partikulir dengan system pendidikan Integral dari tingkat dasar hingga MULO (sederajat dengan SMP)secara konsisten, beliau juga mendirikan Pesantren Persatuan Islam pada tahun 1936 atas inisiatif dari A. Hassan.

  1. menjadi Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta

Selain itu juga Natsir merupakan perintis berdirinya Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta dan diangkat sebagai Sekretaris Sekolah Tinggi Islam, yang ketika dipindahkan ke Yogyakarta pada tahun1945 berubah menjadi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta

  1. kepala biro pendidikan Kotamadya Bandung
  2. Sekolah Dakwah
  3. Membidani berdirinya 9 Universitas di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s