ABC-NYA DENGKI

Posted: 7 November 2009 in Islam

“Hasad itu memakan kebaikan, seperti api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Daud dari Abu Hurairah)

Hasad atau dengki menurut Imam Ghazali dalam bukunya al-Ihya ‘Ulumuddin adalah mengharapkan lenyapnya kenikmatan dari orang lain. Begitu berbahayanya dengki, sehingga sebagian orang shaleh terdahulu berkata, “Awal setiap kekeliruan adalah dengki. Iblis dengki kepada Adam as. karena martabatnya. Dia menolak untuk sujud kepada Adam, lalu dengki itu menyebabkannya durhaka kepada Allah swt.”

Dengki pula yang menyebabkan terjadinya pertumpahan darah pertama kali dalam kehidupan manusia . “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil) ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa’.” (QS. al-Maidah ayat 27)

Mengenal Dengki

Dengki menurut Imam al-Ghazali adalah persoalan kenikmatan. Jika Allah memberikan nikmat kepada seseorang, ada dua hal yang mungkin timbul dalam diri manusia. Pertama, membenci orang yang menerima nikmat dan berharap agar nikmat itu hilang darinya. Itulah dengki yang sebenarnya.

Kedua, tidak menginginkan nikmat itu lenyap, tetapi ia ingin memiliki nikmat yang serupa. Perasaan kedua inilah yang disebut dengan munafasah atau persaingan. Contoh persaingan adalah apa yang disebutkan Rasulullah saw. dalam hadits yang dirwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Tidak boleh hasad kecuali kepada dua golongan. Pertama pada orang yang dikaruniai Allah harta lalu ia menghabiskannya untuk membela kebenaran. Kedua pada orang yang dikarunia ilmu, lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada manusa.” Jelas di sini, munafasah dalam hal kebaikan dan beribadah tidaklah haram, bahkan dianjurkan.

Munculnya rasa dengki menurut Pambadjeng BM, Ps., staf pengajar RSCM Jakarta, pada dasarnya berawal dari adanya kebutuhan-kebutuhan manusia.

Sepanjang hidupnya manusia menginginkan kepuasan, ketenangan dan kenikmatan. Kalau hal tersebut tidak berhasil diperoleh sementara orang lain memiliknya, maka muncullah kedengkian dalam dirinya. Masalah yang kemudian timbul adalah apabila seseorang sampai melakukan cara-cara yang tidak baik untuk memenuh keinginannya.

Lebih jelas lagi, Ustadz Rahmat Abdullah mengungkapkan bagaimana manusia secara fitrah memang telah ‘dipersiapan’ mempunyai kecenderungan pada beberapa hal. Antara lain, misalnya kecenderungan pada harta dan wanita (atau pria bagi wanita). Manusia juga cenderung ingin ‘lebih’ dbandingkan orang lain.

Sejauh ini, persoalan fitrah ini adalah hal yang wajar-wajar saja. Yang menjadi tidak wajar, menurut konsultan Lembaga Psikologi AMNA ini, adalah cara manusia tersebut mendapatkan keinginannya serta bagaimana penghayatannya dalam melihat fenomena di sekitarnya. Apakah fenomena itu dilihatnya dengan hati yang membara, hati yang dengki atau tidak. “Karena sebenarnya menjadi kaya atau pintar dengan cara sportif tentu tidak bermasalah,” tambah Ustadz Rahmat.

Berkaitan dengan masalah iri dan dengki ini, beberapa kalangan menisbatkan sifat ini sebagai ‘persoalan’ perempuan. Padahal penyakit iri dan dengki bisa menimpa siapapun. Tua, muda, laki-laki atau perempuan. Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan seorang ulama asal Mesir, dalam bukunya Da’i Militan Menghadang Tantangan, bahkan menyebutkan betapa seorang Da’i yang ikhlas sekalipun, sekali waktu dapat saja terperosok pada sifat hasad.

Hasad memang bukan sifat khas perempuan. Namun seperti diutarakan Pambadjeng, wanita secara psikologis lebih emosional sehingga seringkali tidak berfikir dengan jernih bahwa apa yang diiginkannya tidak selamanya pantas atau efektif.

Psikolog ini lalu mengutip suatu penelitian yang mengungkapkan bahwa rentang emosi perempuan lebih panjang dari laki-laki. Karena itu, lanjut alumni Fakustas Psikologi UI ini, seorang perempuan bisa merasa amat marah sekali, juga bisa merasa sayang sekali. Perasaan berlebih inilah yang biasanya memicu timbulnya dengki. Karenanya, tampaknya perempuan mempunyai peluang untuk lebih mudah terjangkit rasa dengki karena sensitifitas emosinya ini.

Sebab-Sebab Dengki

Secara terperinci, Imam Ghazali menyebutkan enam penyebab dengki.

Pertama, permusuhan dan kebencian. Marah, menurut Pambadjeng yang aktif dalam Yayasan Kita dan Buah, merupakan salah satu emosi dasar manusia. Kemarahan yang tidak tersalurkan dan terpendam dapat menimbulkan berbagai ‘masalah’.

Kemarahan terpendam ini, menurut Ustadz Rahmat Abdullah, menyebabkan seseorang menginginkan ‘musuhnya’ kehilangan nikmat atau celaka. Inilah yang disebut dengki! Penekanan dengki, menurut Ketua Yayasan Iqra’ ini, adalah kebencian pada orang lain, yang menjurus pada keinginan atau kegembiraan apabila nikmat orang yang dia benci itu hilang.

Kedua, bangga terhadap diri sendiri. Kebanggaan atas kelebihan diri membuat seseorang tidak rela melihat orang lain memperoleh nikmat atau keberuntungan.

Ketiga, sombong atau takabur. Merasa diri paling tinggi, pandai atau terhormat, membuat seseorang kerap ‘terkejut’ saat mengetahui ada orang yang memiliki kelebihan seperti yang dimilikinya, apalagi lebih ‘hebat’ darinya.

Keempat, takjub atau merasa diri paling pantas untuk dimuliakan. Akibatnya, ia tidak bisa menerima apabila orang lain juga dihormati.

Kelima, berlomba-lomba untuk memperoleh sesuatu atau meraih posisi tertentu. Persaingan untuk memperoleh jabatan apabila tida disikapi dengan benar dapat menjerumuskan manusia ke dalam dengki. Hampir serupa dengan itu adalah ambisi untuk menjadi pemimpin.

Terakhir, keenam, penyebab dengki adalah keburukan jiwa. Ada orang yang memang jiwanya cenderung mendengki kepada orang lain. Dengki yang ditimbulkan dari jiwa yang seperti ini menurut Imam Ghazali adalah yang paling sulit disembuhkan.

Tingkat-Tingkat Dengki

Tingkat dengki berbeda-beda. Setidaknya ada empat tingkat dengki yang dipaparkan dalam kitab al-Ihya ‘Ulumuddin.

Dengki yang paling berat adalah menginginkan kenikmatan lenyap dari orang lain, sekalipun ia sepenuhnya menyadari bahwa nikmat itu tidak mungkin berpindah kepadanya. Baginya tidak masalah tidak mendapatkan apa-apa, asalkan orang yang dibencinya tidak bahagia.

Ada orang yang menginginkan nikmat yang dimiliki saingannya lenyap dan berpindah ke tangannya.

Dengki yang lebih ringan kadarnya adalah ingin memiliki nikmat seperti yang dimiliki oleh orang lain. Apabila ia tidak berhasil memperolehnya, maka ia berharap orang lain juga tidak mendapatkannya.

Bentuk dengki yang lain adalah menginginkan kenikmatan seperti yang dimiliki orang lain, tetapi apabila tidak berhasil memperolehnya, ia tidak menginginkan nikmat itu berpindah kepadanya atau lenyap dari tangan orang lain.

(Inayati dari berbagai sumber dan laporan Ririn), Ummi edisi 7/XII/2000

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s