KETIKA TASBIH TAK SEKADAR BEBIJIAN PENGIRING DZIKIR

Posted: 7 November 2009 in Islam

Sampai detik ini, saat berdzikir, para pedzikir acap memperlakukan batas-batas nominal dengan biji tasbih di tangannya. Sebuah tradisi yang mulanya tidak dikenal dalam Islam.

Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar….. Demikian kalimat Thayyibah biasa dilafalkan berulang-ulang oleh para pedzikir. Kadang dibaca 3 kali, 33 kali, 100 kali, dan seterusnya. Kalimat yang dilafalkan pun beragam, tergantung pada aurad (jamak: wirid) yang diminati para pedzikir itu sendiri. Namun, lafaz ataupun kalimat dalam aurad yang harus dibaca dengan jumlah tertentu seringkali membuat pedzikir kesulitan untuk memastikan apakah ia sudah mencapai target, melebihi ataukah belum sama sekali. Pada poin inilah biasanya pedzikir membutuhkan tasbih sebagai alat bantu guna membatasi kalimat dzikir yang diucapkannya. Misalnya pedzikir berniat melafalkan ‘subhanallah’ sebanyak 33 kali, setelah itu diteruskan dengan bacaan ‘Alhamdulillah’ dengan jumlah yang sama dan seterusnya. Karena itulah jumlah biji tasbih yang diutas dalam sehelai benang secara umum terdiri dari 33×3+1=100 biji. Akan tetapi perberlakuan batas-batas nominal sebenarnya juga kerap dilakukan dengan jari-jemari (biasanya sebelah kanan). Anjuran ini merupakan bagian dari kemudahan yang ditawarkan Islam sesuai dengan ajarannya yang cukup toleran dan mudah dilaksanakan. ADOPSI TRADISI Tasbih merupakan kata yang sangat terkait dengan para pedzikir baik di kalangan Islam atau pun selain Islam. Disinyalir tasbih sebenarnya sudah dikenal sebelum Islam datang, atau lebih tepatnya sebelum kelahiran Nabi saw., yakni sekitar 800 tahun sebelum beliau dilahirkan. Dilihat dari segi bentuknya, sebuah sumber pun meneguhkan bahwa model tasbih saat ini memang lebih menyerupai bentuk tasbih di abad ke-16. Mulanya, biji tasbih dikenal di kalangan ajaran Budha. Tak lama kemudian masuk ke dalam agama Hindu, Kristen, serta populer juga di kalangan Barat. Sebagian riwayat ada pula yang menyebut tasbih sebagai hasil dari perkembangan ajaran Kristen. Rahib-rahib yang tinggal di rumah ibadat biasa berdzikir sebanyak 150 kali dalam sehari. Para rahib itu pun senang membawa untaian tasbih ketika sedang berjalan-jalan mengisi waktu luang. Biasanya mereka kalungkan di leher, bak ikatan bunga ros yang melingkar. Itulah sebab mengapa tasbih dinamakan pula rosary (Ingg.). Selain menjadi symbol dzikir dalam melaksanakan ritual peribadatan, tasbih pun terkadang digunakan untuk maksud-maksud tertentu seperti guna-guna dan jimat dalam pembacaan mantera. Lama kelamaan, entah siapa yang mengawali, Islam menyerap tradisi berdzikir dengan menggunakan tasbih. Anehnya, kendati biji tasbih kini sudah mentradisi di kalangan Islam, ritual dzikir dengan model demikian tidak populer di kalangan bangsa Arab Jahiliyah, baik dalam ritual ibadah maupun budaya mereka. BAHAN DASAR, MODEL DAN HARGA Di toko-toko, masjid, atau majlis-majlis dzikir, tasbih menjadi satu pemandangan yang senantiasa terselip. Apalagi bila kita tengok suasana di Mekah dan Madinah, di mana banyak jamaah haji yang biasa membawa tasbih dengan bermacam-macam model dan gaya. Ada yang dimasukkan ke dalam kantong, ada yang digantungkan di leher, yang diikatkan di pergelangan tangan seperti bentuk gelang, serta berbagai model lainnya. Bahan dasarnya pun beragam, ada yang terbuat dari kayu, batu, plastik, bahkan tidak sedikit pedzikir menggunakan mesin penghitung waktu ala stopwatch. Tentu harganya pun bervariatif, tergantung bahan dasarnya. Di samping itu tasbih juga ada yang memiliki khasiat untuk penyembuhan. Tasbih model ini terbuat dari kayu kauka, kayu yang menjadi materi dalam pembuatan kapal Nabi Nuh as. SILANG PENDAPAT Berdzikir dengan menggunakan tasbih tak urung menuai silang pendapat di kalangan para ulama. Ada yang membolehkan, ada pula yang melarang karena dianggap bid’ah. Syekh Ibnu Utsaimin, merupakan salah seorang ulama yang tidak melarang tradisi demikian, mengingat tasbih bukanlah bid’ah melainkan hanyalah satu cara (wasilah). Namun ia menandaskan bahwa menggunakan bantuan jari tangan kanan saat berdzikir dinilai paling afdhal. Sebaliknya, Syekh Bin Bazz justru melarang keras tradisi dzikir dengan tasbih ini. Terlebih lagi beberapa ulama pun malah ada yang membenci tradisi tersebut dengan merujuk pada hadits yang mengatakan bahwa menggunakan ujung jari saat berdzikir dinilai lebih afdhal sebagaimana dilakukan Nabi saw. ketika beliau memegang ujung jari saat bertasbih. “Lakukanlah dengan jari-jemari maka sesungguhnya ia akan dimintakan pertanggungjawaban dan akan berbicara.” (Al Hadits). Demikian pula dengan Syekh al-Albani yang menyatakan bahwa tradisi tersebut adalah bid’ah karena Nabi tidak pernah melakukannya serta tidak pula terdapat di zamannya. Kurangnya keutamaan dzikir dengan tasbih ini menurut Syekh Taimiyah dikhawatirkan akan memunculakan sifat riya dalam diri orang yang berdzikir. Namun demikian, Syekh Sa’ad Yusuf Abdul Aziz, dalam 101 Wasiat Rasul Untuk Wanita mencoba menengarai persoalan ini secara lebih arif. Menurutnya, kemunculan biji tasbih hendaknya dilihat dari nilai fungsionalnya, yakni untuk membiasakan seseorang berdzikir. Maka bila tasbih berfungsi sebagai fasilitator atau motivator untuk mengingat Allah, tentu tak ada salahnya kita gunakan. Setiap kali melihat atau memegangnya, mulut tergerak untuk segera melafazkan kalimat-kalimat thayyibah; Allah, Allah, Allah. [Sari/berbagai sumber] Hidayah, September 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s