MENELAAH TRADISI MEMBACA TERJEMAHAN AL-QUR’AN

Posted: 7 November 2009 in Islam

Sebuah angket yang dibuat oleh sebuah perpustakaan Islam belum lama ini (2005) cukup menghentakkan kelalaian kita sebagai umat Islam. Pernahkah Anda membaca khatam terjemahan ayat-ayat suci Al-Qur’an (sebanyak 30 juz)? Sebagian besar besar pengisi angket itu, bisa dipastikan, akan menjawab tidak.

Mengapa jawaban bisa ditebak sebegitu mudah? Hal ini karena selama ini tradisi membaca Al-Qur’an berikut artinya memang masih terasa asing di rumah-rumah muslim. Pastinya, tidak ada orang yang setiap ba’da Maghrib membaca Al-Qur’an berikut artinya dengan suara lantang. Atau setidaknya membaca Al-Qur’an dengan lantang yang kemudian membaca artinya secara perlahan, baik secara bergantian ataupun berurutan. Hal ini masih dianggap aneh.

Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa mendengar bacan Al-Qur’an dengan model semacam ini pastilah terdengar janggal di telinga. Biasanya, pengertian ibadah membaca Al-Qur’an itu baru sebatas anjuran membaca Al-Qur’an sesering mungkin supaya mendapatkan pahala dan menentramkan hati yang sedang dirundung masalah.

Padahal, sesungguhnya hakikat dari membaca Al-Qur’an secara berulang-ulang adalah untuk memahami dan mendalami firman-firman Allah. Tapi bagaimana mungkin muncul sebuah pemahaman bila arti ayat Al-Qur’an yang tertulis dalam bahasa Arab tidak diketahui sama sekali. Apalagi semua orang sadar, hanya sepersekian persen saja orang Islam yang mengerti bahasa Arab.

Secara tektual, Al-Qur’an memang memiliki untaian kata yang indah karena ia disusun dengan bahasa sastrawi yang tiada tandingannya. Maka hanya dengan mendengarkannya saja, hati seseorang dapat bergetar dan tunduk kepada kebesaran asma-Nya. Yang membacanya pun bisa mendapatkan ketentraman hati yang luar biasa hebat.

Tapi, sebagai umat Nabi Muhammad yang diperintahkan untuk beriqra’ (mengkaji, mendalami dan mengembangkan ilmu), tentulah membaca saja jauh dari kata cukup, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang mendalam tentang makna dan arti firman-firman Allah. Bukankah Al-Qur’an adalah kitab suci yang mengandung begitu banyak hamparan ilmu? Di dalamnya tercakup semua aspek kehidupan manusia dan segala informasi tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Tidak ada satu pun kajian ilmu yang luput dari penuturan Al-Qur’an.

Maka untuk memahami kandungan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang begitu luas, para ulama berlomba-lomba membuat kitab-kitab Tafsir. Sebut saja sedikit contoh buku Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir fi Dzilalil Qur’an, dan masih banyak lagi lainnya. Termasuk juga buku tafsir kontemporer yang ditulis oleh ulama masa kini, seperti Tafsir Misbah karangan Prof. DR. M. Quraish Shihab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s