MIHRAB

Posted: 7 November 2009 in Islam

Tak sekedar warisan tradisi Islam tempo dulu, hingga kini keberadaan mihrab pun masih menghadirkan simbol ibadah. Mungkin lantaran bangunan tersebut hanya bisa kita temukan dalam masjid atau mushala.

Jika Anda sedang berada di dalam sebuah masjid, surau atau mushala, cobalah sesekali perhatikan dinding bagian depannya. Biasanya, tepat di bagian tengahnya ada semacam tempat yang melekuk dan menjorok ke luar. Tempat inilah yang disebut dengan mihrab. Ia berfungsi sebagai pemandu arah kiblat sekaligus dipakai imam saat memimpin shalat.

Secara harfiah, kata mihrab berarti gedung yang tinggi atau pagar. Tapi jika ditilik dari asal katanya, al-harbu, maknanya peperangan. Definisi terminologis ini sebenarnya merupakan kiasan; oleh karena mihrab hakikatnya adalah tempat untuk menghadapkan wajah kepada Allah, maka Tafsir al-Misbah memaknainya sebagai ‘Yang menghadapkan wajahnya dengan tulus kepada Allah bagaikan berperang melawan setan’.

Sementara kemunculan mihrab sendiri tak bisa dipastikan. Banyak silang pendapat, bahkan ada yang mengklaim bahwa mihrab sebenarnya bukan berasal dari tradisi Islam.

Abu al-Thayyib at-Thabari, seorang ahli hukum Islam dari Baghdad, menyatakan bahwa mihrab merupakan tradisi Islam sejak masa Nabi Daud. Ada pula yang beranggapan bahwa mihrab sebenarnya baru muncul di zaman Nabi Muhammad, dengan ditandai adanya mihrab pada masjid Nabawi di Madinah.

Sayangnya, itu pun sukar dipastikan apakah mihrab tersebut dibangun sejak zaman Nabi Muhammad ataukah sesudahnya. Ibrahim Rafaat Pasya, seorang pembaru abad ke-19 asal Turki malah mengklaim mihrab masjid tersebut, baik yang beratap melengkung maupun yang berukir, belum ada sejak zaman Nabi. Hanya dugaan kuat bahwa Nabi pernah shalat di atasnya.

Jalaludin as-Sayuti malah tak segan-segan melontarkan pendapat bahwa mihrab termasuk perbuatan bid’ah. Dalam I’lam al-Adib bi Hudus Bid’ah al-Maharib disebutkan bahwa mihrab tidak ada sejak masa Nabi Muhammad maupun di masa khulafatur rasyidin sekalipun.

As-Sayuti merujuk sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan Ibnu Umar, “Takutlah kamu akan mazabih mihrab-mihrab itu”. Sementara dalam sebuah hadits lain disebutkan pula bahwa makruh hukumnya shalat di mihrab, mengingat tradisi bangunan tersebut dianggap berasal dari arsitektur gereja, yakni altar.

Namun sejarawan Islam banyak mengemukakan bahwa mihrab baru bermunculan di zaman dinasti Umayyah. Seperti yang dilansir dari Ensiklopedi Hukum Islam, bahwa mihrab baru dibangun pada masa Umar bin Abdul Aziz, di bawah pemerintahan khalifah al-Walid.

Semaraknya tradisi membangun mihrab ini disinyalir sudah muncul sejak Muawiyah bin Abu Sufyan, khalifah pertama dinasti Umayyah memimpin roda pemerintahan. Ketika itu, ditetapkan peraturan bahwa setiap masjid harus memiliki mihrab.

Bentuk dan gayanya, sejak dulu pun selalu mengalami inovasi. Menurut sejarawan al-Maqrizi, salah seorang gubernur di masa pemerintahan Muawiyah, Qurra’ bin Syarik, telah memerintahkan pembuatan mihrab dengan bentuk atap melengkung (mihrab mujawaf) dalam masjid-masjid di Mesir. Mihrab model ini pertama kali diperkenalkan oleh Maslam bin Mukhallad atau Abdul Aziz bin Marwan.

Dinasti Fatimiyyah di Mesir (297 H-567 H/909 M-1171 M) konon menghiasi mihrab dengan gelang-gelang perak. Bahkan disebut-sebut, masjid Al-Azhar memiliki hiasan senilai tidak kurang dari 5000 dirham yang dipajang di mihrab. Namun menurut Ahmad, salah seorang alumnus universitas Al-Azhar, Mesir, masjid Al-Azhar sendiri sudah mengalami renovasi sehingga gelang-gelang perak tersebut kini tidak nampak. Pun begitu hiasan yang bertengger kini juga terlihat mewah.

Khusus di Indonesia, yang arah kiblatnya ke barat agak ke sebelah utara, mihrab terletak di ujung barat tengah bangunan masjid, berseberangan dengan pintu masuk. Biasanya di sebelah kanan dari arah makmum terdapat mimbar. Sementara di atas atau di sekelilingnya sering terdapat kaligrafi dengan berbagai macam model seperti ayat-ayat Al-Qur’an, kalimat syahadat, kalimat thayyibah dan ayat yang berkaitan dengan shalat.

Pada perkembangannya, kini banyak masjid yang menggunakan tiga mihrab, yakni sebelah kanan untuk mimbar khutbah, tengah sebagai tempat imam memimpin shalat berjamaah, dan sebelah kiri untuk menyimpan Al-Qur’an.

Di masjid Nabawi sendiri terdapat enam mihrab, yaitu:

1)      Mihrab Nabi saw. yang terletak di bagian raudah (antara mimbar dan makam Nabi)

2)      Mihrab Ustmani

3)      Mihrab Hanafi (sekarang mihrab Sulaimani) yang dibuat oleh Togan Syekh sesudah tahun 860 H dan kemudian dihiasi marmer putih dan hitam oleh Sulaiman I dari kerajaan Ottoman pada tahun 938 H

4)      Mihrab tahajud, yang terletak di belakang bekas kamar Fatimah az-Zahra

5)      Mihrab Fatimah, yang terletak di sebelah mihrab tahajud dan

6)      Mihrab tarawih, yang sering digunakan imam masjid dalam memimpin shalat tarawih.

Namun terlepas dari slang pendapat di atas, jika dilihat dari segi fungsi, menurut isyarat Al-Qur’an (Ali ‘Imran: 37 & 39, Maryam: 11, Shad: 21, dan Saba: 13), mihrab sudah ada sejak zaman nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Mengingat keberadaan mihrab menjadi bagian tak terpisahkan dari syiar Islam, maka tak ada salahnya bangunan ini terus dilestarikan. [Sari/dari berbagai sumber]

Hidayah, Agustus 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s